Diajukan Sebagai:
Tugas Mata Kuliah Seni dan Budaya Lokal
Dosen
Pengampu :
Indra Rukmana, M.S.n,M.Pd
DISUSUN OLEH:
1.
Jajar Priagung
UNIVERSITAS
NAHDATUL ULAMA AL-GHAZALI (UNUGHA) PRODI
FKIP/PGSD
SEMESTER
GASAL TAHUN AJARAN 2017 /2018
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Kebudayaan
tradisional di zaman sekarang sudah
mulai di tinggalkan, kebudayaan merupakan segala hal yang terkait dengan aspek
kehidupan manusia yang di
hayati(pengambaran) dan di miliki bersama. Reyog ponorogo merupakan kesenian
tradisional dari jawa timur tepatnya di daerah ponorogo, dan kesenian ini
merupakan kesenian asli jawa timur yang berbau mistis, yang artinya masih
percaya kepada hal-hal gaib atau memangil setan, oleh karena itu kesenian ini
mulai di tinggalkan dan kita sebagai generasi penerus bangsa harus melestarikan
kebudayaan daerah kita sendiri agar kelak
dimasa depan anak-anak kita dapat menyaksikan atau melihat pertunjukan
reyog ponorogo ini. Pemerintah dan masyarakat wajib berperan aktiv dalam pelestarian budaya
ini agar kesenian budaya reyog ponorogo dapat lestari. Pada
zaman pemerintah Belanda, reog dianggap sebagai kesenian yang akan membawa
pengaruh dan merugikan pemerintahan Kolonial Belanda. Maka dari itu
perkembangan seni reog Ponorogo tidak memperoleh bimbingan serta fasilitas.
Dampak dari kebijakan pemerintah Kolonial Belanda adalah munculnya
perkumpulanperkumpulan reog di desa-desa yang tidak terorganisir dengan baik
terhadap kesenian reog. Akibatnya timbul persaingan antar kelompok reog, hingga
menimbulkan konflik politik tersebut berdampak buruk terhadap kesenian reog
ponorogo. Di samping itu masyarakat juga
harus tahu tentang sejarah kesenian reyog ponorogo agar dapat mewariskanya
kepada generasi muda, dengan melatih dan memperkenalkan tokoh-tokoh yang ada
dalam kesenian reyog ponorogo hal itulah yang menjadi tangung jawab pemerintah
dan masyrakat dalam melestarikan salah
satu kesenian tradisional khas dari jwa timur yaitu kesenian memangil hantu,
setan yang di kenal dengan nama reyog ponorogo.
RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana
sejarah reog ponorogo?
2. Bagaimana
pementasan reog onorogo?
3. Bagaimana peran tokoh-tokoh dalam pementasan reog
ponorogo?
KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan
Pustaka
B. Landasan
Teori
C. Metode
Review
D. Hasil
E. Korelasi
antar budaya
F. kesimpulan
A. Tinjauan pustaka
Kebudayaan
adalah segala hal yang terkait dengan seluruh aspek kehidupan manusia, yang
dihayati dan dimiliki bersama. Didalam kebudayaan terdapat kepercayaan kesenian
dan adat istiadat. Kata kebudayaan memiliki kata dasar “budaya” yang berarti
pikiran, akal budi, hasil. Menurut ilmu Antropologi yang disampaikan oleh
Koentjaraningrat (1985).
Kebudayan
indonesia walaupun beranekan ragam , namun pada dasarnya terbentuk dan
dipengaruhi oleh kebudayan besar lainya seperti pada kebudayaan Eropa,
tionghoa, india, cina, atau arab. Darii
pengertian kebuadayan menurut Koentjaraningrat saya berpedapat bahwa kebudayan
merupakan bagian dari tradisi yang berasal dari pemikiran manusia atau akal
budi yang berkembang dimasayarakat
seperti kesenian dan adat untuk tujuan yang positif.
Dalam Koentjaraningrat, (2003 : 74 ) J.J
Honingmann mengatakan bahwa ada tiga wujud kebudayaan, yaitu :
a. Ideas
Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya
abstrak, tak dapat diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam
pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Budaya
ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada
tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun.
Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat.
b. Activities
Wujud
tersebut dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan
berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ini bisa diobservasi, difoto dan
didokumentasikan karena dalam sistem ssosial ini terdapat aktivitas-aktivitas
manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya
dalam masyarakat. Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa.
c. Artifacts
Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya
merupakan hasil fisik. Sifatnya paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan
didokumentasikan. Contohnya : candi, bangunan, baju, kain komputer dll.
Dari ketiga
wujud kebudayan menurut J.J Honingmann yang meliputi ide, sistem sosial, dan
kebudayan fisik adalah gamabaran dari
sebuah kebudayan yang sangat penting tanapa adanya ketiga wujud tersebut maka
kebudayan akan punah atau tenggalam oleh jaman.
B. Landasan
teori
Sejarah
reog ponorogo
Pada
intinya ada lima versi cerita populer
yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok (Departmen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1978-1979, Reog di Jawa Timur, Jakarta).warok yaitu orang yang memiliki ilmu atau kesucian
dan memberikan ilmunya untuk juan baik, Namun ada salah satu cerita yang paling
terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi
kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi , Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada
abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit
yang berasal dari Tiongkok, selain itu juga murka kepada rajanya dalam
pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan
berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia
mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu
kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari
kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil
untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan
melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja
Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun
perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng
berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai " Singa barong ", raja
hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan
bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat
para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang
diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi
simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras
dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi
simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong
yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya. Kepopuleran
Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan
menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan
perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok . Namun murid-murid
Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian
Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi
pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur
baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu
Kelono Sewandono , Dewi Songgolangit , dan Sri Genthayu .
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini
adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi
Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari
Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari
pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh
warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki
ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan
Kediri dan Kerajaan Ponorogo , dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para
penari dalam keadaan "kerasukan" saat mementaskan tariannya.
Pementasan Reog
Reog
biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan
hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiridari beberapa rangkaian 2
sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanyadibawakan oleh 6-8 pria gagah
berani dengan pakaian serba hitam, dengan mukadipoles warna merah. Para penari
ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang
dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaikikuda. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan
oleh 6-8 gadis yang menaikikuda:
A.Tarian
pembuka
Pada reog tradisional, penari ini biasanya
diperankan oleh penari laki-lakiyang berpakaian wanita.Tarian ini dinamakan
tari jaran kepang atau jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain
yaitu tarikuda lumping.Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian
oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau
Ganongan.
B.Tari inti
Setelah tarian pembukaan selesai, baru
ditampilkan adegan inti yangisinya bergantung kondisi dimana seni reog
ditampilkan. Jika berhubungandengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah
adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita
pendekar .Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang
tersusunrapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya
pemimpinrombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang
pemainyang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut
kelelahan.
C.Tarian penutup
Adegan terakhir adalah singa barong, dimana
pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari
bulu burung merak dan mempertontonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat
dadak merak seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang
pertunjukan berlangsung. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topengyang
berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng
ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan
latihan spiritual seperti puasa dan tapa.Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk,
kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada
slendro dan pelog yang memunculkanatmosfir mistis, unik, eksotis serta
membangkitkan semangat. Satu groupReog biasanya terdiri dari seorang Warok Tua,
sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono
Suwandono. Jumlah kelompok reog berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran
utama berada pada tangan warok dan pembarongnya.
Tokoh Dalam Pementasan Reog
Jathilan
Jathil adalah prajurit berkuda dan
merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog. Jathilan merupakan tarian yang
menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda.
Warok
"Warok" yang berasal dari kata
wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan
perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah (orang yang
kaya akan wewarah). Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi
petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik
Barongan
Barongan (Dadak merak) merupakan peralatan
tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara
lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup
dengan kulit Harimau Gembog
Klono Sewandono
Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah
seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti yang
sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut Samandiman kemana saja pergi sang Raja
yang tampan dan masih muda ini selalu membawa pusaka tersebut.
Bujang Ganong
Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih
Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai
keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa di
tunggu - tunggu oleh penonton khususnya anak-anak.
C.
Metode review
` Menurut
pendapat saya, saya melihat dari sudut pandang agama, reog ini merupakan
kesenian dari jawa timur yang mengandung mistis dan masyrakat pada zaman dahulu
juga masih percya yang namaya animisme
dan dinamisme, dan tarian reo ponorogo ini di gunakan untuk ritual kepercayaan. Dalam
agama islam percya adanya setan atau roh-roh itu di perbolehkan tetapi jika
sudah mengunakan roh-roh tersebut untuk ritual kepercayaan itu dilarang di
dalam agama.
Menurut pendapat saya, saya
memandang dari seni dan budaya kesenian reo ponorogo itu merupakan warisan
nenek moyang yang harus dilestarikan agar anak kita bisa tahu kesenian reog
ponorogo, akan tetapi kesenian reog ponorogo
akan lebih baik untuk kesenian dan tari jangan mengandung hal-hal yang
mistis meskipun itu yang menjadikan kesenian ini menarik bayak orang.
D.
Hasil
Reog
adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian
barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya.
Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut
tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di
Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu
kebatinan yang kuat.
PEMENTASAN REOG
Pementasan reog dilakukan oleh beberapa
tahapan di antaranya:
1.
Terian
pembuka
2.
Tarian
inti
3.
Tariaan
penutup
Tokoh – tokoh dalam pementasa reog
1.
Jatilan
2.
Warok
3.
Barongan
4.
Klono
sewandono
5.
Bujang
ganong
E. Korelasi
dengan budaya di kalimantan timur
Persaman tari reog ponorogo (jawa timur)
dengan Tari
Hudoq (kalimatan timur)
Persamann
Reog ponorogo
|
Tari hudoq
|
Sama-sama mengunakan topeng (saat tari
barong/singa)
|
Sama-sama mengunakan topeng
|
Sama-sama mengandung hal mistis atau sepiritual roh-roh
|
Sama-sama mengandung hal mistis atau sepiritual roh-roh
|
perbedanya
|
|
Dalam pertujukan reog terdapat kuda
kepang yang dipakai untuk menari
|
Dalam menari hudoq mengunakan pakaian dari rumbai daun pisang dan
topeng
|
Untuk pertujukan pernikahan, khitanan
|
Untuk upaca paen padi tidak bisa di
gunakan untuk tari di pernikahan
|
F.
Kesimpulan
Reog Ponorogo adalah kesenian asli milik
Indonesia, khususnya Ponorogo,Jawa Timur. Kesenian yang satu ini memang sedikit
berbau mistik. Tidak jarang juga dalam sebuah pertunjukan reog ada pemain
kesenian reog yang kesurupan. Namun, ada pawang yang telah bertugas menangani
jika ada pemain yangkesurupan. Kesenian ini terdiri dari lima tokoh utama,
yaitu, bujang ganong, jathilan, warok, dan barongan. Sayangnya, banyak remaja
sekarang ini ada yang belum mengerti dan mengetahui akan kesenian reog ini .
Sehingga diperlukan usaha untuk mengenalkan kesenian Reog Ponorogo kepada
mereka. Melalui makalah ini penyusun berharap para pemuda yang tidak mengetahui
akan kesenian reog ini, setelah membaca dan memahami pegertian reog,
tokoh-tokoh dalam kesenian reog dan pementasanya reog ini. Saya berharap kita
dan pemerintah ikut melestarikan
kesenian reog ini dan timbul rasa bangga karena mempunyai kesenian reog sebagai
salah satu kebudayaan Indonesia tepatnya di jawa timur (ponorogo).
G. Daftar
pustaka
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sosant/article/download/2802/1920
https://www.scribd.com/doc/152378404/KESENIAN-REOG-PONOROGO
https://id.wikipedia.org/wiki/Reog_(Ponorogo)
EmoticonEmoticon